Alasan bentuk engine yang datar di bagian bawah pada pesawat B737 NG

    Pesawat paling popular di dunia boeing 737 kelihatan gagah tetapi memiliki bentuk keanehan. Pernahkah kalian menyadarinya?. Ketika kalian dibandara dan memperhatikan mesin pesawat boeing 737 terbaru pada bagian bawah cover mesin terlihat datar bukan? Tetapi Kenapa datar tidak bulat sempurna/ seperti kebanyakan pesawat turbofan lainya? Apasih tujuan dari desain engine seperti ini??

Tentu ada alasanya !

    Untuk mengetahui alasanya, kita perlu kembali pada masa lalu saat B737 diluncurkan. Pada awal peluncuran pesawat boeing seri 737, pesawat di desain untuk penggunaan economy class dimana dapat digunakan hampir di semua bandara didunia dimana  hanya beberapa bandara yang memiliki mobil tangga dan jetway yang support pesawat yang memiliki ketinggian yang relatif tinggi. Sebuah pesawat terbang saat itu harus memiliki pintu (terutama pintu kargo) yang dapat dimasuki oleh operator atau pawang kargo tanpa tangga atau truk. Dengan pemikiran tersebut, seri boeing 737 dibuat untuk beroperasi serendah mungkin, dengan perut yang hampir bergesekan dengan tanah dimana seri pertama menggunakan mesin JT8D yang memiliki bentuk mesin yang kecil. Seiring perkembangan teknologi, terjadinya perkembangan mesin pesawat yang lebih efisien dibandingkan generasi sebelumnya dengan volume yang lebih besar. Sehingga boeing 737 melakukan upgrade mesin ke CFM56.

    Dimana mesin JT8D memiliki low bypass ratio dengan intake yang kecil . Bypass ratio adalah salah satu metrik yang membantu untuk menentukan seberapa efisien sebuah mesin dengan semakin tinggi rasio semakin efisien mesin tersebut. pada dasarnya rasio ini menjelaskan berapa banyak udara yang mengalir di sekitar tahap kompresor mesin pada saat tertentu. Contohnya sebuah mesin dengan bypass ratio 20:1 memiliki 20 bagian udara yang mengalir disekitar tahap kompresor untuk setiap satu bagian udara yang mengalir. Sebagai perbandingan mesin JT8D memiliki bypass ratio 0.96:1 sehingga ketika boeing melakukan upgrade ke mesin CFM56 yang memiliki bypass ratio yang lebih besar akan memiliki dampak yang signifikan terhadap efesiensi pesawat. Dengan ukuran mesin CFM56 yang lebih besar disbanding mesin JT8D maka pesawat akan terpaksa untuk ditambah ketinggianya. Untuk mempertahankan tujuan original dibentuknya boeing 737 yang relative lebih rendah (dekat dengan tanah), hal tersebut memunculkan masalah terbaru bagi enginer. Boeing melakukan desain ulang terhadap mesin agar cocok untuk dipasang pada pesawat beoing 737 yang di desain rendah. Enginer boeing melakukan inovasi dengan tidak mengecilkan fan engine tetapi membetuk cover (nacelle) engine yang asimetris dimana datar pada bagian bawahnya. Hal itu tidak berdampak buruk terhadap mesin dan mesin tetap bekerja dengan sempurna dengan mengurangi resiko engine touching ground. Dengan desain tersebut memungkinkan pesawat juga dapat mendarat darurat di darat di maupun di air dengan resiko momentum yang lebih kecil dengan penopang bagian bawah engine yang datar.


    Kedua pesawat tetap memiliki ketinggian yang relatif rendah, sesuai dengan tujuan dibentuknya pesawat boeing 737 series walaupan generasi selanjutnya memiliki mesin yang bervolume lebih besar dibanding engine pesawat series sebelumnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini